Monday, September 23, 2013

Gelombang Resign Pegawai Plat Merah

Dalam beberapa rapat yang pernah saya ikuti, pejabat di lingkungan Sekjen Kementerian Keuangan  menyampaikan kekhawatirannya mengenai permohonan pengunduran diri dari ribuan pegawai. Permohonan tersebut tidak dikabulkan karena Kemenkeu sendiri membutuhkan banyak pegawai. Dalam suatu rapat, pejabat Biro SDM menyampaikan dari segi penghasilan kami tau penghasilan PNS tidak mungkin dapat bersaing dengan gaji yang ditawarkan perusahaan-perusahaan besar. Menjadi PNS adalah panggilan jiwa yang ingin berbakti pada nusa bangsa. Tapi benarkah gelombang resign semata-mata hanya karena masalah penghasilan?

Saya secara pribadi berpendapat idealnya memang PNS adalah orang-orang yang ingin membaktikan diri kepada nusa bangsa sehingga tidak akan tergoda dengan tawaran gaji besar di luar sana. Tapi kenyataannya, menjadi PNS seringkali membuat kita dikalahkan oleh sistem. Daripada sakit hati melihat kebobrokan sistem yang ada atau lebih buruk lagi ikut terjerumus dalam lingkaran setan, lebih baik keluar sajalah. Apalagi tawaran di luar lebih menggiurkan..

Penerimaan PNS yang marak dalam 5 tahun terakhir diiringi dengan perbaikan sistem dan pengetatan syarat penerimaan pegawai. Hal ini dengan sendirinya membawa banyak talenta muda mendaftar menjadi PNS. Belum lagi penerimaan pegawai yang didapatkan dari perguruan tinggi kedinasan yang juga menerapkan syarat masuk dan syarat kelulusan yang ketat. Namun, ketika mereka telah masuk ke dalam Kementerian, beberapa di antaranya kecewa dan kemudian memutuskan keluar. Apakah mereka salah? Menurut saya tidak.

Pekerjaan sebagai PNS mayoritas bersifat administratif dan itu sangat membosankan, tidak menantang. Sebagian besar tugas pegawai berkaitan dengan foto copy, input data, dan surat-menyurat. Saya sampai pernah mendengar salah seorang pegawai baru itu berkata “Gue merasa dibayar terlalu tinggi untuk ngerjain kayak gitu doang”. Ada juga yang berkata “ilmu yang mereka peroleh tidak dapat diterapkan di sini”. Sifat pekerjaan yang kental nuansa birokratis membuat para anak muda ini semakin frustasi. Pasti sudah biasa kan dengan pameo “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah”.  Apakah salah jika pegawai menginginkan suasana kerja yang lebih dinamis dan menantang?

Jumlah PNS di setiap Kementerian sebenarnya terlalu banyak sehingga saya sangat heran setiap atasan menyampaikan bahwa mereka kekurangan pegawai. Tidakkah mereka melihat banyak anak buahnya yang kadang-kadang saja sibuknya? Sebagian besar waktu dihabiskan hanya untuk googling, chatting, dan membuka situs-situs berita di internet. Mungkin memang ada sebagian kecil unit yang sibuk tetapi ini lebih disebabkan oleh struktur organisasi yang terlalu lebar dan manajemen pembagian tugas yang tidak berjalan dengan baik. Alangkah baiknya jika struktur organisasi dan jumlah PNS dirampingkan serta dioptimalisasi. Setiap PNS dituntut untuk bekerja secara profesional dengan jumlah gaji yang memadai dan tidak kalah dengan perusahaan besar. Kalau jumlah pegawainya sebanyak sekarang, ya tidak mungkinlah APBN sanggup menggaji PNS dengan standar tinggi.. Lagipula memang tidak pantas pula pekerjaan remeh temeh itu digaji besar dengan uang rakyat.

Sungguh aneh sekali ketika saya melihat syarat penerimaan PNS tahun 2013 di suatu Kementerian menuliskan bahwa diutamakan calon pegawai dengan TOEFL 600 dan IP 3,5. Hello?? Tidakkah itu berlebihan? Menurut saya pribadi, syarat penerimaan pegawai harus benar-benar dipadankan dengan kebutuhan unit terkait. Jangan pukul rata syaratnya sama semua. Kalau pegawai yang dibutuhkan adalah seorang analis surat utang maka sesuaikan requirement­-nya sesuai kebutuhan unit tersebut. Begitu juga ketika yang dibutuhkan adalah seorang pegawai untuk meng-input SK pensiun yaa syaratnya gak usah muluk-muluk amatlah.. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya seorang pegawai lulusan S2 yang hanya ditugaskan untuk melakukan input data??

Generasi muda sekarang tumbuh di tengah derasnya arus informasi. Generasi yang disebut generasi ‘Y’ ini memiliki pengetahuan dan akses informasi yang jauh lebih baik daripada generasi sebelumnya. Mereka juga tidak terlalu memusingkan urusan loyalitas kepada pemberi kerja. Kalau ada yang lebih baik, mayoritas dari mereka pasti akan menyambar kesempatan baru yang datang. Tidak dapat dipungkiri besarnya biaya gaya hidup di kota-kota besar membuat semua orang menginginkan penghasilan yang lebih besar. Para anak muda yang mengaku sebagai eksekutif muda menginginkan bayaran profesional setara dengan usaha yang mereka berikan kepada pemberi kerja. Di tengah kondisi seperti itu, sangatlah naif jika pemerintah menginginkan talenta muda lulusan universitas terbaik untuk bekerja secara loyal kepada negara dengan pekerjaan tidak menantang dan gaji standar PNS. Pekerjaan seperti ini hanya akan membuat mereka jenuh.


Saat ini, pegawai yang memilih bertahan hanyalah mereka yang sangat konservatif sehingga tidak mau mencari peluang baru, mereka yang sangat idealis dan berharap menjadi agen perubahan, kaum Ibu yang memang ingin suasana kerja yang ‘santai’ dan tidak perlu dikejar deadline ataupun lembur, dan mereka yang sebenarnya ingin keluar namun belum mendapat kesempatan. Jadi masih mau jadi PNS??

No comments: