Thursday, October 24, 2013

Pendidikan Karakter Ala Negeri 5 Menara

Hari Rabu tanggal 23 Oktober 2013, di kantor saya ada bedah buku  Rantau 1 Muara bersama sang penulis, A. Fuadi. Buku ini merupakan sekuel ke tiga dari Trilogi Negeri 5 Menara. Trilogi tersebut mengisahkan memoar sang penulis sejak sekolah di pesantren sampai melanglang buana ke berbagai belahan dunia. Namun, saya tidak akan bercerita tentang novelnya. Saya yakin banyak  yang sudah tahu dan bahkan mungkin sudah menonton film dari sekuel pertamanya, Negeri 5 Menara.

Dalam acara tersebut, saya berkesempatan untuk bertanya kepada sang penulis tentang bagaimana sistem pembelajaran di Pondok Pesantren Gontor sehingga kelima anak tokoh utama di Negeri 5 Menara berhasil menggapai mimpinya? Jawabannya ternyata karena kehebatan para kiai dalam mendidik karakter anak didiknya dengan cara memberi teladan. Para kiai selalu melakukan apa yang mereka katakan. Ketika mereka mendidik para murid untuk rajin olahraga, setiap hari para kiai mencontohkan dengan berlari pagi atau bermain sepakbola. Melihat guru-gurunya seperti itu, para murid merasa malu jika mereka tidak mengikutinya. Akhirnya mereka semua menjadi rajin berolahraga. Begitu juga dalam berbagai aspek kehidupan yang lain. Ketika mereka meminta para murid untuk mengenal seni, sang kiai menunjukkan bawa dia mahir menabuh drum atau membuat pertunjukkan seni. Ketika sang kiai mengatakan bahwa murid harus bekerja keras, para kiai pun selalu menunjukkan bagaimana mereka selalu bekerja keras setiap hari. Dari sini jugalah para murid belajar ‘mantra’ sakti man jadda wajada: siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.
Para kiai juga mengajarkan bahwa terkadang kerja keras saja tidak cukup. Mereka menanamkan ‘mantra’ kedua man shabara zhafira: siapa yang bersabar akan beruntung. Menurut saya pribadi hal ini penting sekali untuk diajarkan kepada generasi Y, generasi Z, dan generasi selanjutnya yang seringkali tidak sabaran karena terbiasa dengan budaya instan. Sebagai anggota generasi Y, saya ikut ngacung untuk perkara kurang bersabar ini.

Hal lain yang menarik adalah ketika para kiai selalu membiarkan muridnya bermimpi, se-absurd apapun mimpi itu. A. Fuadi mencontohkan ada seorang temannya yang mengatakan akan menulis kamus 3 bahasa: Indonesia-Arab-Inggris. Para kiai di sana tidak pernah bilang “Mana mungkin anak kecil nulis kamus. Nulis kamus itu susah”. Mereka tetap mendukung sang murid dan membiarkan ketika dia ingin menulis kamus tersebut semalaman hingga tangannya membiru. Berlembar-lembar tulisan anak tersebut jelas tidak langsung menjadi kamus, apalagi ketika kemudian ternyata buku yang telah ditulisnya hilang ketika si anak kecopetan. Yang terpenting di sini adalah para kiai tersebut tidak pernah memadamkan impian seorang anak kecil. Menurut A. Fuadi, sekarang temannya tersebut sudah menguasai berbagai bahasa.

Dari mimpi tersebut para murid akan mencoba berbagai hal, mereka berusaha keras mewujudkan mimpinya dan menemukan di mana passion dan jalan hidup mereka. Kadang-kadang impian itu memang harus di-adjust, disesuaikan dengan kenyataan yang ada. Tetapi anak-anak itu diberi kesempatan untuk berusaha mewujudkan mimpinya dan mencari jalan hidupnya sendiri. Seperti kata ‘mantra’ ke tiga  man saara ala darbi washala: siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. Kata mutiara Arab ini menuntun para murid dalam perjalanan mencari misi hidup mereka masing-masing.

Aspek lain dari pendidikan di Pondok Pesantren Gontor adalah memupuk kepercayaan diri anak. Misalnya, setelah 3 bulan tinggal di pesantren, para murid hanya diperbolehkan menggunakan bahasa Arab atau Inggris. Mereka dituntut untuk berbicara tanpa harus peduli dengan grammar. Yang penting anak-anak itu pede untuk berbicara. Kalau saya pikir-pikir, setelah bertahun-tahun belajar Bahasa Inggris di sekolah, saya merasa bahasa Inggris saya tetap hancur. Itu karena saya tidak pernah merasa pede untuk berbicara. Padahal saya tidak terlalu buruk kalau harus membaca artikel atau buku berbahasa Inggris. Tapi kalau disuruh berbicara, rasanya lidah langsung macet dan akhirnya saya cuma menjadi pengguna Bahasa Inggris yang pasif.

Sekarang setelah menjadi Ibu dengan 2 anak, saya tidak ingin anak-anak saya menjadi orang yang tidak pede seperti saya. Saya tidak ingin mereka telat menemukan passion-nya sehingga menjadi manusia dewasa yang terus galau tentang profesi dan jalan hidupnya. Sudah tidak jamannya orangtua menentukan ke mana anak harus melangkah. Sejak dini mereka harus diajarkan untuk terbang sendiri menggapai mimpinya. Tugas orangtua hanyalah membantu mereka menemukan potensi terbaiknya.

Dari acara bedah buku yang singkat kemarin, saya belajar bahwa saya harus menjadi suri teladan untuk anak-anak saya karena mereka belajar dengan meniru. Saya belajar bahwa saya harus membiarkan mereka bermimpi dan mendorong mereka untuk menggapai mimpinya dengan sabar dan kerja keras. Saya juga belajar bahwa saya harus terus memupuk kepercayaan diri mereka. Saya sadar bahwa semua itu tidaklah semudah mebalikan telapak tangan. Di negeri yang sedang krisis kepemimpinan ini, suri teladan sulit sekali dicari. Sistem pendidikan hanya peduli pada aspek kognitif dan mengabaikan pembentukan karakter anak. Tapi insyaAllah saya akan bersungguh-sungguh berusaha. Saya ingin yang terbaik untuk anak-anak saya. Man jadda wa jadda!!


1 comment:

ruzain said...

selamat datang bunda falisha di blogspot....