Hari Rabu tanggal 23 Oktober 2013, di kantor saya ada bedah buku Rantau 1 Muara bersama
sang penulis, A. Fuadi. Buku ini merupakan sekuel ke tiga dari Trilogi Negeri 5 Menara. Trilogi
tersebut mengisahkan
memoar sang penulis sejak sekolah di pesantren sampai melanglang buana ke
berbagai belahan dunia. Namun, saya tidak akan bercerita tentang novelnya. Saya yakin
banyak yang sudah tahu dan bahkan mungkin sudah menonton
film dari sekuel pertamanya, Negeri 5 Menara.
Dalam acara tersebut, saya berkesempatan
untuk bertanya kepada sang penulis tentang bagaimana sistem pembelajaran di Pondok
Pesantren Gontor sehingga kelima
anak tokoh utama di Negeri 5 Menara berhasil menggapai mimpinya? Jawabannya
ternyata karena kehebatan para kiai dalam mendidik karakter anak didiknya dengan cara memberi teladan. Para kiai selalu melakukan apa yang mereka
katakan. Ketika mereka
mendidik para
murid untuk rajin
olahraga, setiap hari para kiai mencontohkan dengan berlari pagi
atau bermain sepakbola. Melihat guru-gurunya seperti itu, para murid merasa
malu jika mereka tidak mengikutinya. Akhirnya mereka semua menjadi rajin berolahraga. Begitu juga dalam berbagai aspek
kehidupan yang lain. Ketika mereka meminta para murid untuk mengenal seni, sang
kiai menunjukkan
bawa dia mahir menabuh drum atau membuat pertunjukkan seni. Ketika sang kiai mengatakan
bahwa murid harus bekerja keras, para kiai pun selalu menunjukkan bagaimana
mereka selalu bekerja keras setiap hari. Dari sini jugalah para murid belajar
‘mantra’ sakti man jadda wajada: siapa yang bersungguh-sungguh pasti
sukses.
Para kiai juga mengajarkan bahwa terkadang kerja keras saja tidak
cukup. Mereka menanamkan ‘mantra’ kedua man
shabara zhafira: siapa yang bersabar akan beruntung. Menurut saya pribadi hal
ini penting sekali untuk diajarkan kepada generasi Y, generasi Z, dan generasi selanjutnya
yang seringkali tidak sabaran karena terbiasa dengan budaya instan. Sebagai anggota
generasi Y, saya ikut ngacung untuk
perkara kurang bersabar ini.
Hal lain yang menarik adalah ketika para kiai selalu membiarkan muridnya bermimpi,
se-absurd apapun mimpi itu. A.
Fuadi mencontohkan ada
seorang temannya yang mengatakan akan menulis kamus 3 bahasa:
Indonesia-Arab-Inggris. Para kiai di sana tidak pernah bilang “Mana mungkin anak kecil
nulis kamus. Nulis kamus itu susah”. Mereka tetap mendukung sang murid dan membiarkan
ketika dia ingin menulis kamus tersebut semalaman hingga tangannya membiru. Berlembar-lembar tulisan anak
tersebut jelas tidak langsung menjadi kamus, apalagi ketika kemudian ternyata
buku yang telah ditulisnya hilang ketika si anak kecopetan. Yang terpenting di
sini adalah para kiai tersebut tidak pernah memadamkan impian seorang anak kecil. Menurut A. Fuadi, sekarang temannya tersebut
sudah menguasai berbagai
bahasa.
Dari mimpi tersebut para murid akan mencoba berbagai hal, mereka
berusaha keras mewujudkan mimpinya dan menemukan di mana passion dan jalan hidup mereka. Kadang-kadang impian itu memang
harus di-adjust, disesuaikan dengan
kenyataan yang ada. Tetapi anak-anak itu diberi kesempatan untuk berusaha
mewujudkan mimpinya dan mencari jalan hidupnya sendiri. Seperti kata ‘mantra’ ke tiga
man saara ala darbi washala: siapa yang berjalan di jalannya akan
sampai di tujuan. Kata mutiara Arab ini menuntun para murid dalam perjalanan
mencari misi hidup mereka masing-masing.
Aspek lain dari pendidikan di Pondok Pesantren
Gontor
adalah memupuk
kepercayaan diri anak. Misalnya, setelah 3 bulan
tinggal di pesantren,
para murid hanya diperbolehkan menggunakan bahasa Arab atau Inggris. Mereka
dituntut untuk berbicara tanpa harus peduli dengan grammar. Yang penting anak-anak itu pede untuk berbicara. Kalau saya pikir-pikir, setelah bertahun-tahun
belajar Bahasa Inggris di sekolah, saya merasa bahasa Inggris saya tetap hancur. Itu karena saya tidak pernah merasa
pede untuk berbicara. Padahal saya tidak terlalu buruk kalau harus membaca
artikel atau buku berbahasa Inggris. Tapi kalau disuruh berbicara, rasanya lidah langsung macet dan
akhirnya saya cuma menjadi pengguna Bahasa Inggris yang pasif.
Sekarang setelah menjadi Ibu dengan 2 anak, saya tidak ingin
anak-anak saya menjadi orang yang tidak pede
seperti saya. Saya tidak ingin mereka telat menemukan passion-nya sehingga menjadi manusia dewasa yang terus galau
tentang profesi dan jalan hidupnya. Sudah tidak jamannya orangtua menentukan ke
mana anak harus melangkah. Sejak dini mereka harus diajarkan untuk terbang
sendiri menggapai mimpinya. Tugas orangtua hanyalah membantu mereka menemukan
potensi terbaiknya.
Dari acara bedah buku yang singkat kemarin, saya belajar
bahwa saya harus menjadi suri teladan untuk anak-anak saya karena mereka belajar dengan meniru. Saya
belajar bahwa saya harus membiarkan mereka bermimpi dan mendorong mereka untuk
menggapai mimpinya dengan sabar dan kerja keras. Saya juga belajar bahwa saya
harus terus memupuk kepercayaan diri mereka. Saya sadar bahwa
semua itu tidaklah semudah mebalikan telapak tangan. Di negeri yang sedang krisis
kepemimpinan ini, suri teladan sulit sekali dicari. Sistem pendidikan hanya
peduli pada aspek kognitif dan mengabaikan pembentukan karakter anak. Tapi insyaAllah saya akan bersungguh-sungguh berusaha. Saya ingin yang terbaik untuk
anak-anak saya. Man jadda wa jadda!!