Menjelang
kelahiran putra ke-2 saya pada awal tahun 2012, saya dan suami memutuskan untuk
menambah 1 orang asisten lagi. Sebelumnya keluarga kami telah dibantu oleh 2
orang asisten, si Mbak yang menginap dan bertugas memasak serta mengasuh Kakak dan
si Teteh yang pulang hari (Senin – Sabtu) dan bertugas mencuci, menyetrika, dan
bersih-bersih. Keputusan menambah 1 lagi armada bala bantuan tersebut diambil
karena jarak usia Kakak dan Dedek hanya 20 bulan. Jadi si Mbaknya pun merasa
tidak mampu kalau harus mengurus 2 anak sendirian selama ± 13 jam di saat saya
dan suami bekerja.
Akan
tetapi karena rumah kami yang super mungil, sepertinya tidak mungkin menambah 1
orang lagi asisten yang menginap di rumah. Akhirnya disepakati si teteh alih
profesi jadi pengasuh Kakak dan penanggung jawab kebersihan rumah yang bekerja
dari jam 6 pagi sampai saya pulang kantor. Sementara Mba membawahi urusan dapur
dan Dedek. Untuk urusan cuci setrika, kami mempekerjakan Umi.
Alhamdulillah
selama ini hubungan kami dengan asisten baik-baik saja dan mereka sangaaat
sayang sama anak-anak. Ketika si Mbak berhenti karena menikah, posisinya
digantikan oleh si Bibi. Masalah mulai muncul karena si Bibi yang sudah cukup
senior itu ternyata kurang bisa mengambil hati Dedek yg saat itu baru beberapa
bulan. Kalau saya berangkat kantor dan Teteh belum sampe, Dedek akan menjerit
meraung-raung karena gak mau digendong Bibi. Sampe akhirnya si Bibinya mau
nyerah n berhenti aja. Saya pun panik. Kebayangkan gimana susahnya nyari
asisten jaman sekarang? Akhirnya kami mengatur ulang kerjaannya. Teteh jadi
urus Dedek, Bibi pegang urusan dapur, bersih-bersih, dan antar-jemput Kakak ke
PG. Voila alhamdulillah semuanya berjalan lancar.
Kebetulan
si Bibi tipe orang yg tidur cepet. Seringnya kalo saya sampe rumah jam 7 malam,
Bibi udah di kamar. Jadi begitu teteh pulang, praktis saya hanya bertiga dengan
2 krucil itu (suami udah dimutasi ke Samarinda tahun kemarin). Biasanya kalo
udah jam setengah 9 malam saya yg gak kuat begadang ini udah ngantuk berat. Si
Dedek pun dah cranky minta nyusu.
Sementara Kakaknya masih belum beres urusan ganti baju, pipis, dll. Di saat
urusan kakak beres, Saya pun mulai
nyusuin Hafiz sambil tiduran. Nah sekarang giliran Kakaknya yang cranky, minta ditemenin maen, minta
diceritain dll. Kalo saya masih kuat, biasanya saya mulailah nyusuin sambil
cerita karangan bebas. Kakak biasanya senang kalau saya cerita tentang dia dan
teman-temannya yang bertemu Thomas di Pulau Sodor, Pororo, dll. Tapi sayangnya Kakak
jarang sekali puas hanya dengan 1 cerita per malam. Senjata pamungkas saya kalo
dah gak tahan lagi pengen tidur adalah memberi dia HP buat maen game hiks.
#sungguh tak patut ditiru
Sebenarnya
kalau dipikir-pikir punya asisten sampe 3 orang ini cukup malu-maluin (tutup
muka). Hal ini juga diakui oleh suami saya yang selalu tersipu-sipu kalo ada
yang nanya asistennya ada berapa orang Pak? hehehe. Rata-rata teman kantor juga
pada terpana mendengar jumlah asisten saya. “Hah? Gaji lo abis buat bayar
asisten” atau “Gilee..orang lain nyari 1 asisten aja susah, Lo punya 3!” dan
komentar-komentar sejenis lainnya.. Jadilah setiap ada yang tanya masalah
asisten, saya dan suami selalu menjawab panjang lebar tentang jarak usia anak
yang dekat dan bahwa yang nginep cuma 1 orang. Dua orang lagi pulang hari kok
dan asisten libur di hari Minggu. Itu jawaban klise untuk membela diri karena
sampe mempekerjakan 3 orang asisten padahal anaknya baru 2! Coba bayangkan
gimana ntar kalo sampe saya punya anak 5??? Sungguh salut saya pada para Ibu
yang bisa mengerjakan semuanya sendiri tanpa bantuan asisten. Apalagi yang
jumlah anaknya lebih dari 2 orang.. 4 thumbs up untuk Anda semua Mommies!!
Sekarang
usia Kakak sudah 3 tahun dan Dedek 1,5 tahun. Sepertinya sudah cukup besar
untuk diasuh oleh satu orang saja. Apalagi mereka sekarang juga sudah cukup
dekat dengan Bibi. Tapi karena dulu suami saya pernah bilang tidak akan
memberhentikan Teteh kalau bukan dia yang minta berhenti sendiri atau kami
pindah rumah, ya sudah sampai saat ini asisten saya tetap 3 orang. Teteh
kebetulan sudah ikut keluarga kami sejak saya hamil Kakak. Memberhentikan Bibi
juga gak mungkin karena saya butuh asisten yang menginap di rumah sehingga saya
bisa berangkat kerja tanpa menunggu Teteh datang. Kalau disuruh memberhentikan
Umi juga kami tidak tega. Jadi ya sudahlah anggap saja turut membuka lapangan
kerja yaa =D
No comments:
Post a Comment