Thursday, September 12, 2013

Saya, 2 Anak, dan 3 Asisten

Menjelang kelahiran putra ke-2 saya pada awal tahun 2012, saya dan suami memutuskan untuk menambah 1 orang asisten lagi. Sebelumnya keluarga kami telah dibantu oleh 2 orang asisten, si Mbak yang menginap dan bertugas memasak serta mengasuh Kakak dan si Teteh yang pulang hari (Senin – Sabtu) dan bertugas mencuci, menyetrika, dan bersih-bersih. Keputusan menambah 1 lagi armada bala bantuan tersebut diambil karena jarak usia Kakak dan Dedek hanya 20 bulan. Jadi si Mbaknya pun merasa tidak mampu kalau harus mengurus 2 anak sendirian selama ± 13 jam di saat saya dan suami bekerja.

Akan tetapi karena rumah kami yang super mungil, sepertinya tidak mungkin menambah 1 orang lagi asisten yang menginap di rumah. Akhirnya disepakati si teteh alih profesi jadi pengasuh Kakak dan penanggung jawab kebersihan rumah yang bekerja dari jam 6 pagi sampai saya pulang kantor. Sementara Mba membawahi urusan dapur dan Dedek. Untuk urusan cuci setrika, kami mempekerjakan Umi.

Alhamdulillah selama ini hubungan kami dengan asisten baik-baik saja dan mereka sangaaat sayang sama anak-anak. Ketika si Mbak berhenti karena menikah, posisinya digantikan oleh si Bibi. Masalah mulai muncul karena si Bibi yang sudah cukup senior itu ternyata kurang bisa mengambil hati Dedek yg saat itu baru beberapa bulan. Kalau saya berangkat kantor dan Teteh belum sampe, Dedek akan menjerit meraung-raung karena gak mau digendong Bibi. Sampe akhirnya si Bibinya mau nyerah n berhenti aja. Saya pun panik. Kebayangkan gimana susahnya nyari asisten jaman sekarang? Akhirnya kami mengatur ulang kerjaannya. Teteh jadi urus Dedek, Bibi pegang urusan dapur, bersih-bersih, dan antar-jemput Kakak ke PG. Voila alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

Kebetulan si Bibi tipe orang yg tidur cepet. Seringnya kalo saya sampe rumah jam 7 malam, Bibi udah di kamar. Jadi begitu teteh pulang, praktis saya hanya bertiga dengan 2 krucil itu (suami udah dimutasi ke Samarinda tahun kemarin). Biasanya kalo udah jam setengah 9 malam saya yg gak kuat begadang ini udah ngantuk berat. Si Dedek pun dah cranky minta nyusu. Sementara Kakaknya masih belum beres urusan ganti baju, pipis, dll. Di saat urusan kakak beres, Saya  pun mulai nyusuin Hafiz sambil tiduran. Nah sekarang giliran Kakaknya yang cranky, minta ditemenin maen, minta diceritain dll. Kalo saya masih kuat, biasanya saya mulailah nyusuin sambil cerita karangan bebas. Kakak biasanya senang kalau saya cerita tentang dia dan teman-temannya yang bertemu Thomas di Pulau Sodor, Pororo, dll. Tapi sayangnya Kakak jarang sekali puas hanya dengan 1 cerita per malam. Senjata pamungkas saya kalo dah gak tahan lagi pengen tidur adalah memberi dia HP buat maen game hiks. #sungguh tak patut ditiru

Sebenarnya kalau dipikir-pikir punya asisten sampe 3 orang ini cukup malu-maluin (tutup muka). Hal ini juga diakui oleh suami saya yang selalu tersipu-sipu kalo ada yang nanya asistennya ada berapa orang Pak? hehehe. Rata-rata teman kantor juga pada terpana mendengar jumlah asisten saya. “Hah? Gaji lo abis buat bayar asisten” atau “Gilee..orang lain nyari 1 asisten aja susah, Lo punya 3!” dan komentar-komentar sejenis lainnya.. Jadilah setiap ada yang tanya masalah asisten, saya dan suami selalu menjawab panjang lebar tentang jarak usia anak yang dekat dan bahwa yang nginep cuma 1 orang. Dua orang lagi pulang hari kok dan asisten libur di hari Minggu. Itu jawaban klise untuk membela diri karena sampe mempekerjakan 3 orang asisten padahal anaknya baru 2! Coba bayangkan gimana ntar kalo sampe saya punya anak 5??? Sungguh salut saya pada para Ibu yang bisa mengerjakan semuanya sendiri tanpa bantuan asisten. Apalagi yang jumlah anaknya lebih dari 2 orang.. 4 thumbs up untuk Anda semua Mommies!!

Sekarang usia Kakak sudah 3 tahun dan Dedek 1,5 tahun. Sepertinya sudah cukup besar untuk diasuh oleh satu orang saja. Apalagi mereka sekarang juga sudah cukup dekat dengan Bibi. Tapi karena dulu suami saya pernah bilang tidak akan memberhentikan Teteh kalau bukan dia yang minta berhenti sendiri atau kami pindah rumah, ya sudah sampai saat ini asisten saya tetap 3 orang. Teteh kebetulan sudah ikut keluarga kami sejak saya hamil Kakak. Memberhentikan Bibi juga gak mungkin karena saya butuh asisten yang menginap di rumah sehingga saya bisa berangkat kerja tanpa menunggu Teteh datang. Kalau disuruh memberhentikan Umi juga kami tidak tega. Jadi ya sudahlah anggap saja turut membuka lapangan kerja yaa =D



No comments: